Pakne, Pemkot Tangerang itu rusuh banget sih. Masa di zaman reformasi begini penyanyi dangdut dicekal sih. Politikus saja sudah tidak ada yang dicekal. Penyanyi dangdut, Pakne, penyanyi dangdut!
Hus, ada apa sih, Le? Kok mbengok-mbengok begitu?
Gimana nggak tereak-tereak Pakne. Aku ini kan butuh hiburan. Hiburan yang paling merakyat adalah dangdut. Lah... penyanyinya dicekal. Nggak jadi manggung deh.
Semua penyanyi dangdut dicekal di kota itu?
Ya tidak Pakne.
Banyak yang dicekal?
Ya tidak Pakne. Hanya satu orang.
Hanya satu orang dan Kamu mencak-mencak begitu?
Soalnya penyanyi yang ini lain, Pakne. Kalau dia manggung, semua penonton akan terpukau.
Suaranya bagus banget memangnya?
Suaranya sih biasa saja, Pakne.
Suaranya biasa saja. Lalu mengapa orang-orang pada terpukau kalau dia manggung.
Goyangannya, Pakne. Goyangannya.
Goyangannya kenapa Le? Bagus kayak penari Jaipong?
Tidak Pakne.
Enerjik kayak tari blekdikdot?
Tidak Pakne.
Lalu goyangan kayak apa yang bikin orang-orang terpukau?
Goyangan dia itu liar banget, Pakne. Kayak bukan penyanyi dangdut.
Kok kayak bukan penyanyi dangdut?
La iyalah, Pakne. Penyanyi dangdut itu modal utamanya suara. Penyanyi dangdut top akan selalu menarik penonton walaupun dia tidak bergoyang. Nah, kalau penyanyi yang dicekal itu, aku ragu akan ditonton banyak orang kalau dia tidak bergoyang.
Terus dia itu dicekal karena apa, Le?
Karena goyangannya, Pakne.